Kondisi Sektor Ekonomi Indonesia
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpandangan bahwa Indonesia dalam proporsi ekonominya dapat dikategorikan sebagai sebuah negara industri. Pasalnya, sektor industri merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional dengan sumbangannya mencapai lebih dari 20 persen. Sementara itu, berdasarkan jumlah persentase tersebut, Indonesia masuk dalam jajaran lima besar negara-negara dunia yang kontribusi industrinya cukup tinggi. Meurujuk data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan industri non-migas tumbuh sebesar 5,49 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,06 persen pada triwulan III/2017. Cabang industri yang mengalami pertumbuhan tinggi adalah industri logam dasar sebesar 10,6 persen, diikuti industri makanan dan minuman 9,49 persen, industri mesin dan perlengkapan 6,35 persen, serta industri alat transportasi 5,63 persen. Di sektor industri Agro, Indonesia punya kekuatan yang cukup besar di industri kelapa sawit serta industri pulp dan kertas. Indonesia adalah produsen nomor satu di dunia untuk minyak kelapa sawit serta nomor enam untuk penghasil pulp dan kertas. Daya saing industri logam dasar di Indonesia juga terus meningkat, salah satunya dibuktikan oleh kabupaten dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di Indonesia, yaitu Morowali, Sulawasi Tengah. Di kabupaten ini berdiri kawasan industri Morowali yang menjadi basis industri smelter nikel. [3]
Sektor Industri Paling Terdampak Pandemi Covid-19
Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) ditahun 2020 sempat mencatat 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi virus corona Covid-19. Berdasarkan sektornya, usaha akomodasi dan makan/minum merupakan yang paling banyak mengalami penurunan pendapatan, yakni 92,47%.[1]
Jasa lainnya menjadi sektor yang mengalami penurunan pendapatan terbanyak kedua, yakni 90,90%. Posisi tersebut disusul oleh sektor transportasi dan pergudangan, konstruksi, industri pengolahan, serta perdagangan. Sekadar informasi, BPS melakukan survei terhadap 34.559 pelaku usaha pada 10-26 Juli 2020. Pengumpulan data dilakukan melakui metode computer assisted web and self interviewing (CASWI) atau survei daring.[1]
Lebih terperinci berikut sektor industri paling terdampak pandemi Covid-19: [2]
Industri Pariwisata
Industri pariwisata menjadi industri yang terpapar cukup tinggi akibat virus corona ini. Pasalnya banyak sekali negara-negara yang memberlakukan lockdown sehingga otomatis bisnis pariwisata terhenti demi mencegah penyebaran virus corona antar negara. Secara spesifik, dampak virus corona ini juga dirasakan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Anjloknya okupansi hingga angka 40% membawa dampak yang cukup besar dalam keberlangsungan bisnis hotel. Akibat kejadian ini, beberapa hotel di Bali dan Batam meminta karyawannya untuk cuti.
Industri Maskapai Penerbangan
Maskapai penerbangan juga termasuk ke dalam kategori industri yang terpapar cukup tinggi akibat virus corona. Akibat pandemi global saat ini, maskapai penerbangan terpaksa harus mengurangi penerbangan internasional guna mencegah terjadinya penyebaran yang semakin meluas. Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menjelaskan bahwa akibat dampak dari pandemi Covid-19, beberapa maskapai telah memilih opsi untuk menutup operasi dan beberapa lainnya melakukan PHK terhadap karyawannya untuk mengurangi kerugian.
Industri Manufaktur
Industri manufaktur kemungkinan besar akan menerima dampak cukup besar akibat corona. Secara khusus, industri manufaktur yang diprediksi paling terdampak adalah manufaktur otomotif. Menurut Marketwatch, perusahaan di bidang ini mungkin akan lebih berhati-hati jika ingin melakukan PHK. Pasalnya, mencari tenaga terampil di industri ini tergolong tidak mudah.
UMKM
Pelaku UMKM juga tampaknya terkena imbas akibat virus corona. Saat ini para pelaku UMKM mulai menghadapi berbagai macam kesulitan bisnis sejak Covid-19 menyerang.
Jumlah UMKM terdampak pandemi sebanyak 87,5 persen dari seluruh usaha yang beroperasi di seluruh Indonesia. Dari jumeau ini, sekitar 93,2 persen di antaranya terdampak negatif di sisi penjualan. Namun, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ada 12,5 persen responden yang tidak terkena dampak ekonomi dari pandemi Covid-19, dan bahkan 27,6 persen di antaranya menunjukkan peningkatan penjualan. Dari total 6 sektor UMKM, hanya usaha masyarakat di bidang pertanian yang masih tumbuh sebesar 16,7 persen pada Desember 2020. Sementara itu, industri pengolahan tumbuh sebesar 1,5 persen, konstruksi turun 17,9 persen, perdagangan turun 3,2 persen, real estate naik 13 persen, dan jasa kemasyarakatan meningkat 2 persen.
Dimasa pandemi Covid-19 ini, beberapa sektor industri berusaha menghadapi krisis yang disebabkan karena terbatasnya pergerakan masyarakat dalam berkehidupan sosial diluar yang akhirnya berdampak dan mengahalangi perputaran roda
ekonomi beberapa sektor industri diatas, seperti industri pariwisata, penerbangan, UMKM, dan industri manufaktur. Namun, dewasa ini masyarakat dan pemerintah bersama-sama membangun kembali kehidupan ekonomi Indonesia dengan menyediakan alternatif lainnya dimasa pandemi dan memanfaatkan teknologi yang ada. Misalnya di industri pariwisata, masyarakat mulai menemukan cara baru memanfaat teknologi di masa pandemi yakni dengan membuat paket wisata virtual, dsb. Hal inilah yang diharapkan dapat terus berusaha dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah demi meningkatkan kembali perekonomian Indonesia.
Sumber:
1. Nurhaliza Shifa. Data Sektor Usaha Yang Paling Terdampak Pandemi Covid-19 oleh IDX Channel. Diakses melalui Data Sektor Usaha Yang Paling Terdampak Pandemi Covid-19 (idxchannel.com)
2. Muhammad, Adam. Sektor Industri Paling Terdampak di Masa Pandemi Covid-19. Diakses melalui Sektor Industri Paling Terdampak di Masa Pandemi Covid-19 (konsultanku.co.id)
3. Kementrian Perindustrian RI. Indonesia Masuk Kategori Negara Industri. Diakses melalui Kemenperin: Indonesia Masuk Kategori Negara Industri

Komentar
Posting Komentar